07 Mei 2015

Pengakuan Guru Ketika Mengajar



Tak pernah kubayangkan, Suwito temanku SD setiap hari selalu menyanyi sambil memukul-mukul meja, sekarang menjadi tukang kayu. Warijo tetanggaku yang sering menghina pribadiku, sekarang menjadi pedagang es. Wanuri temanku di SMP yang sering kentut, sekarang menjadi tukang parkir. Topo Sudarno teman ngaritku (mencari rumput) yang suka mabuk, sekarang menjadi pengangguran. Poniran temanku SD yang suka main mobil-mobilan, sekarang menjadi sopir toko bangunan. Giyoto temanku SMP yang suka mencoret-coret meja, sekarang menjadi kuli bangunan. Kusnadi temanku SMP yang suka pamer harta, sekarang menjadi pedagang asongan. Sambodo temanku SD yang suka pacaran, sekarang menjadi seles permen. Saiman temanku SD yang suka memukul kepalaku dengan penggaris kayu, sekarang menjadi tukang kayu. Sumatno temenku SD yang suka mencontek, sekarang menjadi buronan polisi. Prasetyo Cahyo Nugroho temanku SMP yang rajin belajar dan beribadah, sekarang menjadi kepala sekolah di salah satu SMP Negeri di Kudus.

Aku sendiri sewaktu sekolah sangat benci profesi guru. Tak pernah ada dalam angan-anganku untuk bercita-cita menjadi pendidik. Setiap hari melihat, mendengar dan merasakan bahwa profesi guru sangat berat. Aku takut berhadapan dengan orang banyak, apalagi harus bicara mempengaruhi siswa agar mau memperhatikan. Banyak guru disakiti siswanya karena galak, banyak guru dibenci siswanya karena nilainya mahal, banyak guru dihina siswanya karena sombong, banyak guru ditakuti siswanya karena angker, banyak guru ditinggal pergi siswanya karena menyebalkan, banyak guru tidak diperhatikan siswanya karena cara mengajarnya membosankan, banyak siswa mendo’akan gurunya agar sakit, banyak siswa mendo’kan gurunya agar tabrakan dan banyak siswa mendoakan gurunya agar cepat mati.

Tetapi Tuhan berhendak lain. Profesi yang sangat aku benci justru sekarang menjadi pekerjaan utamaku. Walaupun terpaksa, aku berusaha profesi ini aku nikmati dan aku laksanakan dengan sebaik-bainya. Sekarang bukan hanya sekedar guru biasa, tetapi aku bergelar guru professional, walaupun sejatinya masih amatir.

Awalnya berhadapan dengan siswa aku sangat grogi, bingung, sering salah ucap, salah tingkah, gemetaran, gembrobyos. Apalagi siswa mentertawakan diriku, mendidih darahku, emosi tak terkendali, 143 siswa kutendang kakinya, 21 siswa kujambak rambutnya, 12 siswa kutempeleng mukanya,  210 siswa kubentak-bentak, 23 siswa kucaci-maki, 17 siswa kuusir dari kelas, 11 siswa kulempar batu, 4 siswa kulempar kursi, 2 siswa kulempar meja, 1 siswa menangis karena kubentak-bentak, 7 siswi menangis karena kucaci-maki dan aku sendiri 7 kali dibentak-bentak kepala sekolahku.

“Itu kau lakukan kapan?” Tanya Bento penasaran.
“Sejak 1997 sampai awal 2015,” jawab Caciem.
“Kenapa kau lakukan itu?” Tanya Bento.
“Aku hanya meniru guru-guruku dulu,” terang Caciem.
“Sekarang masih sering begitu?” kejar Bento.
“Sudah mulai berkurang,” terang Caciem.
“Kok bisa berubah?” kejar Bento.
“Aku takut dibunuh muridku yang dendam,” jelas Caciem.
“Murid kok dendam?” ungkap Bento.
“Murid Cas cis cus…,” gerutu Caciem.
 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post