16 Desember 2015

Mafia Beras Anak Sekolah



Setiap malam minggu Anto bersama tujuh temannya bisa menjual beras sebanyak 25 Kg. Uang hasil penjualan mereka gunakan untuk berfoya-foya layaknya pemuda metropolitan. Mereka mulai belajar merokok, mengkonsumsi minuman keras murahan dan pesta makanan kecil sejenis kwaci panggang biji kembang Matahari.

Ditengah-tengah pesta tersebut tersirat kegembiraan serasa di kafe, padahal hanya di salah satu rumah kosong yang dipimpin seorang pemuda yang dinobatkan sebagai Bos Mafia Beras. Malam semakin larut tak lupa mereka mengadakan rapat evaluasi dan membuat perencanaan langkah-langkah selanjutnya. “Besuk malam minggu kamu harus bisa menyediakan lauk-pauk untuk makan besar,” Bos Mafia memerintahkan kepada salah satu anak buahnya.

Layaknya seorang pegawai kedinasan, Bos Mafia memberikan instruksi kepada stafnya untuk melakukan pekerjaan rutin sesuai bidangnya masing-masing. Program kerja ditingkatan agar hasilnya lebih maksimal. Beras yang terkumpul tidak dijual semua, namun sebagian dimasak untuk makan malam bersama. Kalau negeri ini defisit beras, maka harus bisa impor beras dari luar negeri. Pesta dilaksanakan seminggu sekali tepatnya pada malam minggu di salah satu rumah kosong yang ditinggal penghuninya. “Kalau hanya minum dan makan kwaci, lambung kita pasti protes. Mulai minggu depan kita harus pesta makan besar,” tandas Bos Mafia.

Menjelang waktu Subuh, perencanaan sudah tersusun rapi. Mafia terbagi tiga Tim. Tim satu mengumpulkan beras, Tim dua menyediakan minuman keras dan Tim tiga mensiapkan lauk-pauk. Mereka tak berani membantah perintah Bos Mafia. Bos Mafia dipilih berdasarkan nilai tertinggi hasil Uji Kompetensi Gali (UKG) yang dilaksanakan setahun sekali.

Anto salah satu anggota dari Tim satu setiap hari sambil berangkat sekolah membawa beras dua gelas untuk disetorkan. Beras didapat dari hasil mencuri milik ibunya yang disimpan di dapur. ibunya tidak merasa kehilangan karena simpanan beras cukup banyak. Setelah sebulan berlalu, ibunya baru tahu kalau simpanan berasnya berkurang. Usut punya usut ternyata beras dicuri anaknya sendiri setiap pagi.

Dengan berbagai cara Tim dua melakukan pengumpulan pundi-pundi rupiah untuk membeli minuman keras. Cara yang biasa dilakukan dengan melakukan pemalakan di lingkungan sekolah. Sasaran korban adalah anak-anak perempuan teman kelasnya sendiri. Kegiatan ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Pihak sekolah tidak tahu dan korban tidak mau melapor ke pihak berwajib karena mendapat ancaman serius dari pelaku pemalakan.

Dalam memenuhi kewajibannnya Tim tiga cukup berat. Tim ini harus menyediakan lauk-pauk untuk pesta makan malam. Dengan segala cara sudah ditempuh namun gagal. Terpaksa salah satu anggota dari Tim tiga  mengambil seekor ayam jantang milik ayahnya sendiri.

“Kenapa anak-anak perilakunya begitu?” tanya Bento.
“Karena pendidikan budi perkerti tidak penting,” terang Caciem.
“Apa yang diajarkan disekolah?” kejar Bento.
“Yang penting nilai Ujian Nasional bagus,” jelas Caciem.
“Sekolah apaan itu?” guman Bento.
“Sekolah Mafia,” tegas Caciem.
“Bener juga, sekolah sekarang penuh dengan Mafia,” gerutu Bento.
 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post