23 Maret 2015

Guru Pergi, Kelas Kosong



Tahun 1981-an ada penyanyi dangdut yang cukup popular namanya Arafiq. Seusia itu aku duduk dikelas enam. Walaupun temen-temen suka menyanyikan lagu dangdut, tetapi tidak satupun yang menarik bagiku. Salah satu lagu yang terkesan pada diriku, lagu ciptaan Arafiq yang berjudul “Pandangan Pertama”, tetapi  sampai sekarang aku hanya tau judulnya.

Suwito teman semeja di kelasku yang sekarang tukang kayu, dinobatkan sebagai jagoan menyanyi lagu dangdut. Setiap guru meninggalkan kelas tak henti-hentinya Suwito beraksi memamerkan kemampuannya dengan bernyanyi. Selain pandai menyanyi, dia juga terampil memainkan musik dengan alat Bantu meja belajar dengan memukul-mukulkan tangannya. Aku yang duduk disampingnnya tak merasa terganggu, bahkan bisa memberikan hiburan gratis di sela-sela kegiatan belajarku. Dalam hatiku bertanya, “bisakah aku main musik seperti Suwito”.

Pelajaran jam pertama dimulai, guruku memberikan tugas mengerjakan soal Bahasa Indonesia, kemudian guruku meninggalkan kelas menuju kantor guru. Sepuluh soal selesai aku kerjakan dalam waktu tiga puluh menit, Suwito juga bisa selesai dalam waktu yang bersamaan karena nyontek jawaban miliku. Sejak  memberikan tugas soal sampai satu jam berikutnya, guruku juga belum kelihatan hidungnya di kelas. Keadaan yang demikian munculah kebiasaan Suwito menyanyi dan memukul-mukul meja. Karena sering ditinggal pergi guru, akhirnya aku terhanyut ikut-ikutan memukul-mukul meja mengikuti irama lagu “Pandangan Pertama”.

Pak Wahidi guruku yang sekarang sudah almarhum, tiba-tiba masuk kelas karena suara musik meja terdengar sampai kantor. Marah besar guruku, kemudian menyuruh anak-anak perempuan mengambil batu ditaruh dimejaku. Sejurus kemudian guruku dengan suara membentak menyuruh aku memainkan musik meja menggunakan batu, agar lebih keras suaranya. Gemetar badanku, jantung berdegup tak teratur, keringat liar keluar di sekujur tubuhku.

“Ayo…pukul-pukul meja lagi, pakai batu”, perintah guruku dengan membentak.
“Kenapa diam saja”, tambah guruku.
“Pak guru sich… sering meninggalkan kelas dan makan-makan dikantor”, jawabku spontan.

Mendengar ucapanku itu, temen-temen serentak tertawa dan guruku tersenyum, lalu guruku menghentikan amarahnya, kemudian aku disuruh membuang batu-batu yang ada dimejaku.

“Guru meninggakan kelas itu sudah biasa,”ujar Caciem.
Kelas kosong siswa tidak diberi tugas, sebanyak 642 jam pelajaran.
Kelas kosong siswa diberi tugas mengerjakan soal, sebanyak 1565 jam pelajaran.
Kelas kosong siswa disuruh mencatat, sebanyak 982 jam pelajaran.
Kelas kosong gurunya ngobrol dikantor, sebanyak 724 jam pelajaran.
Kelas kosong gurunya jajan dikantin, sebanyak 571 jam pelajaran.
Kelas kosong gurunya rebutan jumlah jam mengajar, sebanyak 176 jam pelajaran.

“Apa sich yang dimaksud kelas kosong?” tanya Bento.
“Gurunya tidak berada di kelas,” tegas Caciem.
“Ya… wajar kalau kelas jadi gaduh,” ujar Bento.
“Kemarin pas kosong seru….aku main bola di kelas,” terang Caciem.
“Hah….cas cis cus…..cas cis cus….,” Bento keheranan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post