24 Februari 2015

Guru Terlambat Masuk Kelas




Berisikbanget kambing tetangga sebelah. Berteriak mengembik keras-keras. Asal buka mulut seperti menyanyi tanpa nada. Telingaku lama-lama nggak kuat mendengarnya. Jangan-jangan ada penjahat yang mencederai tubuhnya atau diterlantarkan majikannya. Daripada penasaran, lebih baik aku tengok, mungkin sedang pesta narkoba atau rebutan kue tart atau rebutan pacar atau rebutan jumlah jam kerja.

Sesampai di kandang, kulihat sepintas tidak ada masalah. Semua terdiam melihatku dengan rasa keheranan. Kupalingkan mataku kearah pintu rumah majikan, kelihatan majikannya sedang tidak berada di rumah walau pintunya terbuka. Kalau kambing-kambing itu kuajak pergi, pasti aku diteriaki maling. Ku tinggalkan saja kambing tersebut, eh…gaduh lagi.

Sejenakaku merenung, sejurus kemudian munculah ide cerdasku, maklum saja ya, kecerdasan bukan hanya diukur dengan kemampuan menyelesaikan soal-soal berhitung atau mampu memecahkan masalah dengan rumus-rumus yang rumit, tetapi bagaimana kita bisa memberikan solusi walaupun itu hanyalah seekor kambing sebagai obyek. Apa yang harus kita lakukan, tentunya kucarikan rumput sebagai solusinya. Tak lebih dari tiga puluh menit, kudapatkan yang diingikan kambing. Dengan lahapnya, kambing tersebut tidak pesta narkoba atau rebutan jumlah jam kerja, tetapi ngeriyung rumput.

“Rampungkah masalahnya?”, guman Caciem.

Ada masalah yang lebih esensial belum terpecahkan. Tapi bukan aku kalau tidak bisa memcahkan masalah. Sambil main gitar dengan menyanyikan lagu “Sampah Estib” tiba-tiba kembali muncul ide cerdasku. Ada keributan, ada kegaduhan, ada teriakan, ada suara kaca pecah, ada suara tangisan, ada suara cacian, ada suara umpatan, itu semua karena majikan terlambat menunaikan tugasnya.

Mestinya bel berbunyi semua beraksi melaksanakan tugasnya masing-masing, tetapi ada oknum guru yang datang terlambat dengan berbagai alasan. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit merupakan waktu yang sakral dalam memulai suatu pekerjaan.

“Suara-suara tanpa nada itu sangat mengganggu dan merusak lingkungan”, ujar Bento.

Bukanoknum guru kalau mau disalahkan. Sudah datang terlambat, marah-marah, matanya melotot, membanting buku, memukul-mukul papan tulis, bicaranya tidak jelas, mondar-mandir, memberi siswa tanpa tujuan yang jelas dan pergi meninggalkan kelas tanpa cas cis cus.

“Guru apa itu?”, tanya Caciem.
“Guru professional”, jawab Bento.
“Maksudku guru mengajar pelajaran apa?”, tegas Caciem.
“Hampir semua”, jelas Bento.
“Guru profesional kok kayak gitu?”, kejar Caciem.
 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post